TheoTown sedang jadi bahan pembicaraan hangat di kalangan gamer Indonesia. Game simulasi kota buatan Lobby Divinus ini mendadak ramai dimainkan dan sering disebut sebagai “simulasi jadi WNI”. Banyak pemain dari berbagai genre ikut mencoba, mulai dari pecinta open world sampai FPS.
Namun, di balik serunya membangun kota dari nol, ada kebiasaan unik sekaligus keliru yang sering dilakukan player Indonesia saat bermain TheoTown. Kebiasaan ini bahkan sering dianggap sebagai “dosa besar” dalam mengelola kota.
1. Bangun Gedung Tinggi di Wilayah yang Salah

Salah satu kesalahan paling sering adalah membangun gedung pencakar langit super tinggi di desa kecil atau wilayah terpencil. Bayangkan kota dengan jumlah penduduk sedikit, ekonomi pas-pasan, tapi tiba-tiba berdiri gedung 200 lantai.
Secara gameplay, ini jelas tidak efisien. Biaya maintenance sangat besar, sementara pemasukan dari warga tidak sebanding.
Akhirnya, gedung jadi beban keuangan kota dan berujung bangkrut. Warga desa sebenarnya hanya butuh pasar, fasilitas dasar, dan perumahan sederhana, bukan mall atau gedung mewah.
2. Pajak Terlalu Tinggi Sampai Warga Kabur

Kesalahan berikutnya adalah menaikkan pajak secara berlebihan. Banyak player berpikir semakin tinggi pajak, semakin besar pemasukan. Padahal di TheoTown, pajak tinggi tanpa fasilitas memadai justru membuat warga marah dan meninggalkan kota.
Pajak memang penting, tapi harus seimbang dengan pelayanan publik seperti jalan, transportasi, pendidikan, dan kesehatan. Jika tidak, populasi turun drastis dan kota jadi sepi.
3. Mengutamakan Pejabat, Mengorbankan Rakyat
Ada juga player yang fokus memperkaya pejabat kota dengan gaji besar, sementara rakyat diperas habis-habisan. Pendapatan pejabat bisa tembus angka fantastis, tapi kondisi kota justru kacau.
Model pengelolaan seperti ini membuat stabilitas kota runtuh. Dalam jangka panjang, penduduk akan demo, ekonomi stagnan, dan kota sulit berkembang. TheoTown cukup realistis dalam hal ini.
4. Deforestasi Demi Buka Lahan Cepat

Kesalahan fatal lainnya adalah membakar hutan untuk membuka lahan. Banyak pemain ingin ekspansi cepat tanpa memikirkan dampak lingkungan. Padahal, hilangnya pepohonan bisa memicu banjir dan masalah lingkungan lain di dalam game.
TheoTown tidak hanya soal bangun gedung, tapi juga menjaga keseimbangan alam. Menyisakan ruang hijau adalah investasi jangka panjang untuk kota yang stabil.
5. Tidak Menyediakan Lapangan Pekerjaan
Warga butuh pekerjaan agar kota hidup. Namun, beberapa player justru mengabaikan sektor industri dan komersial. Akibatnya, tingkat pengangguran naik dan warga makin tidak puas.
Sebagai walikota, membuka lapangan kerja adalah kunci utama agar ekonomi kota berjalan. Tanpa itu, kota akan stagnan dan ditinggalkan penduduk.
6. Kota Mewah tapi Dipenuhi Demo

Ada juga fenomena kota dengan gedung indah dan megah, tapi dikelilingi warga yang terus berdemo. Ini biasanya akibat kebijakan pajak tinggi, minim fasilitas, dan pengelolaan kota yang tidak seimbang. Demo adalah tanda jelas bahwa kota sedang tidak sehat. Jika dibiarkan, stabilitas kota akan hancur perlahan.
TheoTown memang terlihat santai, tapi sebenarnya menuntut pemain untuk berpikir logis dan seimbang. Banyak “dosa besar” player Indonesia muncul karena ingin serba cepat, kaya instan, dan membangun tanpa perencanaan matang. Padahal, inti dari game ini adalah manajemen kota yang realistis.
Jika ingin kota berkembang, jadilah walikota yang bijak. Atur pajak dengan wajar, bangun sesuai kebutuhan, jaga lingkungan, dan pastikan warga punya pekerjaan. Dengan begitu, kota akan makmur, stabil, dan jauh dari demo.












